Cerita Saya Mengurus IDAK: Dari Bingung, Ditolak, Sampai Resmi Jadi Distributor
Nama saya Reza. Saya bukan siapa-siapa. Cuma seseorang yang ingin menjual alat kesehatan secara legal di Indonesia. Tapi ternyata… legalitas itu bukan cuma selembar izin. Saya harus belajar dari nol, dan itulah yang ingin saya bagikan di sini.
🧩 Bab 1: “Saya Kira Cukup Modal dan Produk”
Saat pertama kali dapat penawaran dari supplier luar negeri, saya langsung berpikir, “Wah, ini peluang bagus!”
Produk ada. Modal cukup. Importir siap bantu. Tapi saat saya tanya ke rumah sakit, mereka tanya balik:
“Sudah punya IDAK, Pak?”
Saya jawab jujur: “Belum.”
Dan mereka langsung tutup pintu.
📘 Bab 2: Apa Sih IDAK Itu?
Saya pikir IDAK itu semacam sertifikat produk. Ternyata saya salah besar.
IDAK itu izin distribusi alat kesehatan, diberikan oleh Kementerian Kesehatan RI, supaya perusahaan saya boleh secara resmi:
- Menyimpan
- Mengangkut
- Menjual alat kesehatan ke RS, klinik, dan toko alkes
Dan ini bukan izin untuk produk tertentu. Tapi izin untuk usaha distribusi saya secara menyeluruh.
🏢 Bab 3: Kantor Virtual? Nggak Berlaku
Saya sempat mau pakai kantor virtual biar hemat. Tapi saya temukan informasi ini:
“Kantor virtual tidak diperbolehkan. Harus kantor fisik dengan gudang yang sesuai CDAKB.”
Akhirnya saya sewa ruko 2 lantai di kota tempat saya tinggal. Di lantai 2 buat kantor, lantai 1 saya rapikan jadi gudang kecil. Harus ada:
- Rak
- Alat ukur suhu
- Alur distribusi dan SOP yang tertulis
👨⚕️ Bab 4: PJT, Sang Penentu Nasib
Satu lagi yang bikin saya puyeng: PJT (Penanggung Jawab Teknis).
Saya nggak bisa asal tunjuk orang.
Syarat PJT:
- Minimal D3/S1 Farmasi, Teknik Elektromedik, atau jurusan kesehatan
- Harus bekerja full-time (dibuktikan kontrak di notaris)
- Nama dia bakal muncul di sistem Kemenkes
Untung saya punya kenalan yang cocok dan bersedia jadi PJT. Langsung saya urus kontraknya.
📄 Bab 5: Akhirnya Input OSS RBA
Setelah gudang oke, PJT sah, dan saya punya dokumen:
- Akta perusahaan
- NIB
- NPWP
- Surat sewa kantor/gudang
- Profil perusahaan dan alkes
Saya daftar lewat OSS RBA → Lanjut ke RegAlkes Kemenkes → dan… akhirnya terbit IDAK saya.
Prosesnya nggak instan. Tapi saat saya terima email “IDAK Anda disetujui”, rasanya kayak lulus sidang skripsi!
🚫 Bab 6: Gagal Karena Salah Persepsi
Dari cerita saya, berikut kesalahan umum yang sempat hampir saya lakukan:
| Kesalahan Umum | Kebenarannya |
|---|---|
| IDAK = izin edar produk | ❌ Salah. IDAK adalah izin distribusi usaha |
| Bisa pakai kantor virtual | ❌ Harus kantor & gudang fisik |
| PJT bisa freelance | ❌ Harus tetap, terikat kontrak notaris |
🎯 Kesimpulan Saya
IDAK bukan sekadar izin.
Ini adalah bukti bahwa usaha kita bertanggung jawab secara sistem, legalitas, dan mutu.
Tanpa IDAK, kita hanya jadi calo. Tapi dengan IDAK, kita jadi pelaku usaha alat kesehatan yang sah dan terpercaya.
💡 Catatan untuk Anda yang Mau Ikut Terjun
Kalau Anda sedang di posisi seperti saya dulu, ini saran saya:
- Sewa kantor dan gudang yang layak dulu
- Cari PJT yang kompeten dan sesuai regulasi
- Urus semuanya via OSS dan Farmalkes
- Kalau pusing, gunakan jasa konsultan
Saya sendiri akhirnya dibantu oleh tim dari legalitasperizinan.com. Nggak rugi. Mereka bantu dari layout gudang sampai lolos audit CDAKB.
Konsultasi awalnya gratis, kok. Coba aja tanya-tanya.
